LIMA KETUA DPC PERADI SOHO BERSAKSI DI  KEMELUT PERADI

 Jakarta, Kompas Rakyat,

Sidang perdata kemelut Peradi (Persatuan Advokat Indonesia), dilanjutkan lagi Senin kemarin, (6/8), mendengarkan lima saksi yang diajukan kuasa hukum Penggugat, Sapriyanto Refa, SH, MH dan kawan kawan.

Berdasarkan kesepakatan majelis hakim, kuasa Penggugat versi Fauzi Yusuf Hasibuan (Peradi Soho), kuasa Tergugat Peradi versi Juniver Girsang, dan para saksi maka pemeriksaan saksi saksi ini dilakukan sekaligus.

Saksi saksi yang diperiksa kali ini adalah  Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Peradi versi Fauzi. Mereka adalah Ketua DPC Jember Zaenal Marzuki, Ketua DPC Pontianak Hadi Suratman, Ketua DPC Jakarta Timur, Piter Siringoringo, Ketua DPC Banjarmasin Bun Yani, dan Ketua DPC Medan Charles Silalahi.

Keterangan para saksi menjelaskan Peradi pecah menjadi tiga setelah Musyawarah Nasional (Munas) Makassar gagal digelar dan ditunda tiga sampai enam bulan. Sejak itu, muncul Peradi versi Fauzie Hasibuan, Juniver Girsang, dan versi Luhut MP Pangaribuan. Ketiga kubu pun masing-masing mengklaim sebagai Peradi yang sah.

Ketua DPC Peradi Jember Zaenal Marzuki menjelaskan setelah Munas Makassar ditunda, diadakanlah Rakernas di Pekanbaru pada April 2015. Rakernas tersebut memutuskan bahwa Munas Peradi akan diadakan pada Juni 2015.

Ketika Munas yang juga diadakan di Pekanbaru itu, ada beberapa nama yang mencalonkan diri sebagai Ketua Umum.

“Calonnya ada James Purba, Fredrich Yunadi dan Fauzie Yusuf Hasibuan. Dari calon tersebut, terpilih Fauzie Yusuf Hasibuan sebagai Ketua Umum,” kata Zaenal.

Meskipun James dan Fredrich tidak terpilih, lanjut dia, mereka masuk dalam kepengurusan Fauzie. James menjadi Wakil Ketua dan Fredrich menjadi Dewan Penasehat. Kepengurusan tersebut, kata dia, telah dikukuhkan dalam Munas.

Selanjutnya ketua majelis hakim Budhy Hertantiyo menanyakan para saksi apa ada Peradi lain setelah pengukuhan kepengurusan itu. Pertanyaan tersebut dijawab lantang oleh Ketua DPC Medan, Charles Silalahi.  “Ada Pak, Peradinya Juniver Girsang dan Luhut Pangaribuan,” tegasnya.

Lebih lanjut Charles menjelaskan, Peradi versi Juniver muncul setelah Otto Hasibuan selaku Ketua Umum DPN Peradi memutuskan untuk menunda Munas.

“Pas ditunda Munasnya, mereka kumpul-kumpul, bilang Juniver Ketua Peradi. Mereka kumpul, aklamasi gitu aja, Ketua Peradi Juniver Girsang,” tutur Charles.

Budhy pun kembali mencecar saksi dengan pertanyaan terkait Peradi pimpinan Luhut. Charles menyebut Peradi pimpinan Luhut itu caretaker. “Itu caretaker Pak. Ini kan Juniver aklamasi, Luhut bentuk sendiri caretaker kemudian mereka bikin Munas lewat sms mencalonkan Luhut jadi ketua,” ungkapnya.

Ketua majelis hakim kemudian mempersilahkan kuasa hukum Penggugat untuk bertanya kepada para saksi. Ketua tim kuasa Penggugat Sapriyanto Refa mempertanyakan soal agenda Munas Pekanbaru. Secara bergantian, para saksi menjawab agenda Munas adalah mendengarkan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Otto Hasibuan dan demiosionernya sebagai Ketua Umum.

Selain itu, ada juga agenda pencalonan Ketua Umum untuk periode berikutnya. Menurut para saksi, setiap DPC mengirim utusan yang mempunyai hak suara dalam Munas. Banjarmasin misalnya mengutus 8 utusan, Jember 8 dan Jakarta Timur 25 utusan. Ketika ditanya salah seorang kuasa hukum Penggugat soal adanya LPJ dan demisioner Otto Hasibuan di Munas Makassar, mereka secara bergantian menjawab bahwa tidak ada kejadian yang dimaksud.

LPJ dan demisioner Otto, kata mereka, baru ada pada saat Munas di Pekanbaru. LPJ itu pun diterima oleh para peserta Munas. Setelah disusun kepengurusan Peradi versi Munas Pekanbaru pimpinan Fauzie lalu dilakukan pelantikan di Hotel Mulia, Jakarta.

*Dolat Munthe

,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *