MANTAN ISTRI GUGAT SUAMI DI PENGADILAN BAGI HARTA GONO GINI 

Jakarta, Kompas Rakyat,

Perceraian antara Vimal Kumar Indru Mukhi (48), dengan Sonya Shankardas Samtani (48), yang sudah putus melalui sidang percereian berdasarkan putusan   Pengadilan Negeri Jakarta Pusat NO: 138/Pdt.G/2017/PN.Jkt.Pst tanggal 25 Oktober 2017 silam, sidangnya berlanjut dalam perkara gono gini di Pengadilan yang sama.

Bekas pasangan ini berebut gono gini  yang didapat selama berumah tangga. Harta bersama mereja nilainya sangat fantastis yakni antara Rp 200-Rp 300 miliar. Namun hal ini  belum bisa  terkonfirmasi lantaran kuasa hukum Penggugat Sonya, pengacra Malik Bawazier SH tidak  menjawab saat dihubungi melalui HP-nya.

Perkara gugatan gono gini tersebut terdaftar dalam perkara  No: 655/Pdt.GBTH.PLW/2017/PN.Jkt. Pst tanggal 4 Desember 2017.

Sonya  sebagai Penggugat melawan mantan suaminya Vimal sebagai Tergugat. Dalam posita gugatanya Sonya mengatakan; perkawinan dengan mantan suaminya tersebut   lebih kurang berjalan selama 26 tahun dan dikarunia dua orang anak Akhil dan Azarya.

Selama hidup bersama antara Penggugat dan Tergugat,   diperoleh harta kekayaan bersama ( Gono-Gini) berupa benda bergerak maupun tidak bergerak sebanyak 8 macam jumlahnya yang antara lain; 2 buah mobil,  2 Apartemen  di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat,  2 unit ruang kantor di Mangga Dua Jakarta Utara  dan 2 Ruko juga di Mangga Dua, Jakarta Utara.

Menurut ketentuan, kata Penggugat, apabila antara  suami istri berakhir karena perceraian, maka seluruh harta nersama tersebut harus dibagi dua antara Penggugat dan Tergugat.

Dasarnya pasal 37 UU NO: 1 tahun 1974 tentang Perkawainan jo Pasal 128 KUH-Perdata dan Yurisprudensi MARI NO: 424.K.SIP 1959 tanggal 9 Desember 1959.

Selama perkawinan, aset-aset harta bersama  berupa Apartemen yang di Senen Jakarta Pusat, 2 Ruang  Kantor di Mangga Dua Jakarta Utara, dan 2 Ruko di Mangga Dua Jakarta Utara, oleh Tergugat telah dijadikan anggugan kredit di sebuah bank, dan uangnya digunakan  untuk kepemtingan pribadi dan usaha  Tergugat. “Penggugat sama sekali tidak menikmati,” katanya.

Terkait aset aset tersebut, Penggugat pada awalnya berniat menolong suaminya yang sedang kesulitan dalam bisnis sehingga Penggugat bersedia menandatangani pinjaman kredit dengan jaminan aset-aset tersebut. Tetapi kemudian menjadi “blunder” kepada Penggugat, dimana yang semula  maksutnya menolong suami, akan tetapi malah menjadi beban dan membawa kerugian bagi Penggugat.

Diungkap pula bawa Tergugat tidak pernah melapor kepada  Penggugat  dikemanakan  penggunaan uang pinjaman kredit bank digunakan. Namun Penggugat menjadi kaget dan heran  setelah mengetahui, ternyata Tergugat tidak bisa  membayar cicilan kredit ke bank. Kemudian pihak bank memberitahu kepada Penggugat dan Tergugat  bahwa aset yang dianggunkan akan diproses eksekusi lelang oleh bank.

Penggugat kemudian mengetahui ketika masih dalam proses percerai antara Penggugat dan Tergugan dipengadilan terungkap,  fakta fakta dari keterangan para saksi  bahwa ternyata, uang pinjaman dari bank tersebut telah digunakan Tergugat untuk bersenang- senang dan berfoya-foya sekaligus untuk menghidupi seorang wanita  bernama Ricka Adinda Ambarini beserta keluarganya.

Caranya, kata Penggugat, Tergugat memberikan kartu kredit miliknya kepada wanita bernama  Ricka, dan hal ini  pun diakui oleh Ricka  saat menjadi saksi dalam persidangan. Dua kartu kredit tersebut dari Bank Central Asia (BCA) dan  Citibank. Kedua kartu kredit tersebut digunakan Ricka  antara bulan Agustus 2016 sampai dengan Desember 2016, baik didalam ataupun diluar negeri.

Ketika terjadi transaksi-transaksi dengan menggunakan kartu kredit milik Tergugat, yaitu pada tanggal 3 Desember 2016 di Hyper Market  Mekah dan Starbucks Jeddah,  Tergugat pada tanggal 1 sampai dengan 15 Desember 2016, sedang berada di Los Angeles bersama Penggugat, anak Penggugat dan Tergugat.

Adanya fakta hukum tetkait rutinitas transaksi-transaksi tersebut,  jelas menunjukkan jika Tergugat telah menggunakan uang pinjaman kredit untuk berfoya-foya, bersenang-senang sekaligus menghidupi wanita lain yang nernama Ricka, bukan untuk kepentingan binis Tergugat. Sehingga membawa kerugian yang bersifat nyata terhadap Harta Bersama milik Penggugat,  dan seharusnya juga menjadi milik anak-anak Penggugat dan Tergugat.

Karena harta bersama yang jumlahnya  8 macam,  namun yang 5 macam telah dijaminkan ke  Bank oleh  Penggugat, maka sisanya berupa 1 unit mobil BMW Nopol B.136 AV tahun 2015 atas nama Tergugat, 1 unit mobil Toyota Fortuner tahun 2016 Nopol B.136 MA dan 1 apartemen  The Peak at Sudirman Setia Budi Jakarta Selatan atas nama Tergugat, maka sudah sepatutnya menjadi milik Penggugat.

Guna menghindari gugatan ini menjadi sia-sia, maka Penggugat mohon agar harta harta bersama tersebut diletakkan sita jaminan.

Berdasarkan hal-hal yang telah terurai di atas, Penggugat memohon antara lain,  agar majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang memeriksa perkara ini untuk  mengabulkan gugatan Penggugat seluruhnya.

Menyatakan barang-barang bergerak dan tidak bergerak yang telah disebut dalam posita gugatan  adalah  harta bersama antara Penggugat dan Tergugat, dan menetapkan seluruh harta bersama  dibagi dua secara adil.

Selain itu majelis hakim juga diminta untuk menetapkan harta harta yang menjadi milik Penggugat ataupun Tergugat. Bila Pengadilan  berpendapat lain agar memberikan putusan yang seadil adilnya.

*Dolat Munthe

,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *