GUGATAN ORANG ASING TERHADAP HARTONO TANUWIDJAJA DAN MIKO S DITOLAK PENGADILAN JAKPUS SELURUHNYA

Jakarta, Kompas Rakyat,

Seorang warga negara asing asal Singapura, Raymond Law alias Low Kum Luen dinyatakan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus), gagal membuktikan gugatannya.

Oleh karena itu, majelis hakim yang diketuai Eko Sugianto, SH, MH, menyatakan dalam.putusannya menolak seluruh gugatan Penggugat Raymond Law terhadap, pengacara Hartono Tanuwidjaja SH, MSi, MH dan pengusaha Miko Suharyanto.

Penggugat Raymond Law
semula menggugat Hartono Tanuwidjaja  dan Mikro SH harianto (Tergugat I dan Tergugat II) melui kuasanya pengacara Budhy Supriady SH, MH dan kawan kawan,  melakukan perbuatan melawan hukum (PMH).

Dalam gugatan itu penggugat memohon agar Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, memutus menyatakan Tergugat I dan Terguga II terbukti melakukan perbuatan melawan hukum  terhadap Penggugat. Dan menyatakan Akta No.15  tenang pengakuan hutang, Raymond Law terhadap Tergugat II, tanggal 27  November    2016 yang dibuat Notaris Drs Wijanto Suwongso, SH, batal dan sesat.

Namun gugatan Penggugat terhadap Hartono Tanuwidjaja  (tergugat I) dan Miko Suharianto (tergugat II) ditolak oleh  hakim seluruhnya pada persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat,  baru ini.

Ketua majelis hakim  Eko Sugianto  dalam amar putusannya menyatakan, bahwa penggugat tidak dapat membuktikan dalil dalil gugugatannya.  Sebaliknya, para tergugat justru yang dapat mematahkan seluruh  dalil dalil gugatan Penggugat.

“Perbuatan tergugat I dan II  yang disebut penggugat  telah melakukan PMH   tidak dapat dibuktikan. Oleh  karenanya tidak dapat dituntut untuk membayar ganti rugi baik secara materiil ataupun immateriil, ” kata hakim.

Tentang masalah  Akta No: 15 tanggal 17 November  tahun 2016 yang dibuat di hadapan Notaris Drs Wijanto Suwongso di Jakarta, hakim menyatakan Akta tersebut adalah sah menurut hukum,  karena dibuat melalui prosedur hukum  yang berlaku.

Berdasarkan pertimbangan di atas majelis hakim yang menangani kasus perdata NO: 123/PDT.G/PN.JKT.PST  tersebut menolak seluruh petitum penggugat dan menghukum penggugat untuk membayar ongkos perkara.

Seperti tersebut dalam posita gugatan,  warga negara  Singapura Raymond Low ini melakukan gugatan PMH  terhadap para Tergugat karena alasan  telah melakukan fitnah dan pencemaran nama  baik. Akan tetapi dengan jalan memasukkan ‘Akta Sesat’   No:15  sebagai bukti dalam perkara perdata NO: 447 /PDT.G/2012/PNJKT.UT, Perkara perdata NO: 570/PDT/2014/PT.DKI dan tidak mau mengoreksi hingga kasasi di Mahkamah Agung (MA) oleh sebab itu  gugatan ini  dimenangkan para Tergugat  sampai tingkat kasasi.

Begitu juga  tentang Akta No: 15 yang dibilang Akta sesat ini pernah digugat juga di Pengadilan negeri Jakarta Pusat dengan NO: 296/PDT.G/ 2026/ Jkt.PST, dan  dimenangkan oleh Tergugat.
Hakim dalam putusannya mengatakan  pernyataan sesat atau tidak sesat Akta No:15 merupakan kewemangan hakim menulainya, bukan penafsiran  para pihak.

*Dolat Munthe

,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *