TERBUKTI MENIPU 500.000 DOLAR AS, DALTON DIHUKUM 2,6 TAHUN PENJARA

Jakarta, Kompas Rakyat,

Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang diketuai DR Ibnu Widodo SH, MH, ahirnya menghukum terdakwa pelaku penipuan Dalton Ichiro Tanonaka (63) dengan hukuman 2 tahun 6 bulan penjara.

Hanya saja vonis terhadap warga negara Amerika Serikat ini tidak ada perintah segera ditahan. Dalton pun melenggang dengan nafas lega meninggalkan gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, seusai pembacaan putusan itu, sebab dari penyidik dia tidak pernah di bui.

Sebelumnya dalam menanggapi putusan tersebut, Dalton dan tim penasihat hukumnya menyatakan pikir pikir. Demikian juga jaksa penuntut menyatakan pikir pikir.

Semula Dalton dituntut jaksa penuntut umum Sigit Suharianto SH, MH, 3,6 tahun penjara karena terdakwa terbukti menipu saksi pelapor/korban, Harjani PR, senilai 500.000 dolar AS (setara Rp 6,65 Miliar.)

Terhadap tuntutan jaksa tersebut penasihat hukum menyatakan Dalton tidak terbukti menipu karena hubungan saksi dengan terdakwa adalah menyangkut perdata. Karenanya, dalam.pembelaan dikatakan Dalton tidak terbukti bersalah atau menipu. Penasihat hukum dalam nota pembelaannya memohon dibebaskan terdakwa dari segala dakwaan.

Sebaliknya JPU Sigit dalam tuntutannya dengan tegas mengatakan terdakwa Dalton terbukti melakukan penipuan terhadap saksi, sebagaimana bunyi  Pasal 378 KUHP.

Menimbang tuntutan jaksa dan pembelaan tim penasihat hukum, majelis hakim terlebih dahulu mempertimbangkan unsur unsur pasal penipuan. Majelis hakim menyatakan dalam putusannya bahwa semua unsur dapat dibuktikan dan tidak terdapat unsur pemaaf atas perbuatan Dalton.

Majelis Hakim juga mengatakan bahwa Dalton kooperatif  selama mengikuti sidang perkaranya karena itu tidak perlu ditahan meski terbukti menipu saksi Harjani.

Perbuatan yang memberatkan terdakwa, karena perbuatannya merugikan saksi korban. Sedang faktor meringankan, terdakwa belum pernah dihukum dan sopan dalam persidangan.

Perkara penipuan ini berawal.dari kehadiran terpidana Dalton ke kantor saksi Harjani PR selaku pemilik PT Vaces Prabu Invesment, di Jl. M.Thamrin UOB Plaza Jakarta Pusat sekitar September 2014. Pada pertemuan ini Dalton meminta advis kepada saksi Harjani bagaimana cara mengembangkan usaha dan bagaimana cara mencari orang untuk menanamkan modal usaha atau investasi, mengembangkan PT Melia Media International (PT MMI). Pada kesempatan itu Dalton juga mengajak saksi untuk menginvestasikan uangnya senilai 1.000.000 dolar AS, untuk pengembangan program media televisi (The Indonesia Channel) dengan menjanjikan kepada saksi Harjani keuntungan sebesar 25% dari saham dan selanjutnya akan dijadikan sebagai pemegang saham pengendali PT MMI.

Pertemuan selanjutnya, terdakwa mengajak saksi ke Grand Hyatt untuk menemui saksi Judith Soeryadjaya yang menurut keterangan terdakwa bahwa Judith ikut berinvestasi di The Indonesia Channel. Padahal kenyataannya Judith tidak pernah berinvestasi di perusahaan Dalton.

Pada 22 September 2014 terdakwa mengirimkan email kepada saksi Harjani yang intinya mengajak saksi korban berinvestasi dibidang media televisi The Indonesia Channel dengan melampirkan drag Surat Perjanjian Kerjasama (Head of Agremant).

Atas penawaran tersebut saksi Harjani tertarik dan bersedia untuk berinvestasi di The Indonesia Channel dengan terlebih dahulu melakukan.audit dan memeriksa dokumen dokumen perusahaan terdakwa PT MMI. Terdakwa menyetujui hal tersebut apabila saksi korban menyetor sebesar 500.000 dolar AS dan 30 hari kemudian kembali menyetorkan kekurangan uang investasi sebesar 500.000 dolar AS.

Untungnya, sebelum saksi korban Harjani  mentransfer uang kepada terdakwa, saksi korban meminta kepada terdakwa dokumen  berupa proyeksi rencana kerja (cash flow)   PT MMI periode tahun 2015 di bidang bidang media televisi THe Indonesia Channel. Selanjutnya pada tanggal 3 Oktober 2014 terdakwa memerintahkan karyawannya yaitu Sucipto, Indah Nugroho dan Nicole untuk membuat proyeksi rencana kerja (cash flow) untuk tahun 2015 dibidang televisi THe Indonesia Channel dengan incam atau keuntungan yang akan diperoleh sebesar 1.073.456 dolar AS. Setelah itu terdakwa memerintahkan  Soetjipto (keuangan) untuk mengirimkan proyeksi rencana kerja PT MMI untuk priode tahun 2015 tersebut hanya didasarkan data data yang disampaikan secara lisan oleh terdakwa tanpa memperhitungkan kerugian yang sedang dialami PT MMI sebesar Rp 22.113 152.674.

Setelah itu terdakwa Dalton mengirimkan Invoice Nomor: 010/Invs-TIC/X/14 Tanggal 9 Oktober 2014 kepada saksi Harjani yang intinya agar membayar, “1 Package Invesment” sebesar 500.000 dolar AS. Selanjutnya pada tanggal 10 Oktober 2014 oleh saksi Harjani mentransfer uang sesuai invoice yang diminta terdakwa yang ditransfer dengan dua kali melalui Bank Of India Indonesia  ke Bank CIMB Niaga Bo. Rek. USD : 7050200072007 atas nama PT MMI yaitu Pertama 400.000 dolar AS dan kedua 100.000 dolar AS.

Terdakwa Dalton selanjutnya membuat dan menandatangani kwitansi pembayaran No: 10/10/-TIC INVT/X/14 Tanggal 10 Oktober 2014 senilai 500.000 dolar AS untuk pembayaran 1 Package Invesment dan juga menyerahkan kepada saksi korban Harjani serta oleh terdakwa juga menerangkan bahwa antara terdakwa dan saksi belum dibuatkan surat perjanjian untuk investasi si bidang media televisi THe Indonesia Channel dan akan dipersiapkan.

Belakangan terungkap kepada saksi korban bahwa setelah diaudit dokumen perusahaan PT MMI tidak lazim dan sedang merugi Rp 22 Miliar lebih. Karenanya Harjani minta uangnya sebesar 500.000 dikembalikan terdakwa. Namun demikian Dalton hanya menebar janji bayar dalam setiap kesempatan ditagih saksi. Hingga ahirnya Ranjang menyuruh pengacaranya Hartono Tanuwidjaja melaporkan perbuatan Dalton ke Polda Metro Jaya hingga diproses sampai persidangan. Tapi uang tersebut belum.dibayar Dalton sampai perkaranya di vonis bersalah.

*Dolat Munthe

,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *