EKSEPSI FREDRIH YUNADI DAN PENGACARANYA DITOLAK HAKIM

Jakarta, Kompas Rakyat,

Pemeriksaan pokok perkara terdakwa Fredrich Yunadi yang diadili karena didakwa menghalang-halangi penangkapan mantan Ketua DPR dan Ketua Umum Partai Golkar
oleh KPK, dilanjutkan persidangannya karena eksepsi tim pengacara dan terdakwa dinyatakan majelis hakim ditolak.

Demikian inti putusan sela majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta, yang dibacakan Senin kemarin 5/3). Selanjutnya hakim ketua memerintahkan jaksa KPK supaya memanggil para saksi untuk didengar keterangannya, pada sidang berikut, Kamis (15/3).

Terhadap putusan sela majelis hakim tersebut, Fredrich menyatakan banding. Selanjutnya pengacara tersebut (Fredrich), memohon kepada majelis hakim supaya memeriksa kembali Perkara Gugatan Praperadilan yang diajukannya terhadap KPK di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan beberapa waktu lalu yang telah digugurkan.

Kemudian Fredrich meminta  supaya majelis hakim  memerintahkan tim jaksa untuk memanggil Ketua KPK Agus Rahardjo dalam perkaranya.

Permintaan Fredrich tersebut tak langsung ditanggapi. Tapi menskors sidang selama.beberap menit. Dan setelah saya dang dibuka lagi, majelis hakim menolak permintaan Fredrich karena soal pemanggilan dan pemeriksaan ulang perkara Praperadilan ada mekanisme tersendiri. Tapi hal itu tidak diatur dalam KUHAP (Kitab Undang undang Hukum Acara Pidana).

Mendengar sikap majelis hakim Fredrich Yunadi dengan nada naik pitam mengatakan keputusan sikap majelis melanggar hak asasinya. Lalu Fredrich  mengatakan dia tidak akan datang lagi dalam persidangan perkaranya. Pasalnya, berbagai permintaannya ditolak majelis hakim.

Alasan Fredrich meminta Ketua KPK dilibatkan dalam perkaranya karena dalam berkas perkara ada keganjilan. Hal ini di diistilahkan Fredrich dengan pemalsuan dokumen oleh Jaksa KPK. Kalaupun nantinya dipaksa hadir dalam sidang berikutnya, Fredrich memilih diam. Dia merasa haknya dengan menyampaikan berbagai permintaan itu telah diperkosa.

“Saya tidak mau hadir pada sidang berikut. Meskipun saya dipaksakan hadir, saya tidak akan bicara dan saya tetap akan berprilaku begitu Pak. Silakan, karena itu hak asasi manusia pak,” kata Fredrich di hadapan majelis hakim yang menyidangnya.

“Selama perkara saya belum diputus Pak, tolong dihargai hak asasi saya dan harkat martabat saya mohon dihormati. Jadi dalam hal ini jangan memaksakan kehendak. Terserah pengacaranya saya. Karena saya juga seorang pengacara Pak. Saya paham. Saya tidak mau hak saya diperkosa Pak,” tandas Fredrich.

Menurut Fredrich hak asasi dan kehormatan dirinya diperkosa karena berkas berkas yang digunakan jaksa KPK adalah berkas palsu.

Karena itulah Fredrich meminta agar Ketua KPK Agus Rahardjo dihadirkan dalam sidang. Fredrich menduga KPK menggunakan dokumen dan bukti surat palsu karena menggunakan tanda tangan penyidik KPK Novel Baswedan, yang saat itu tengah berada di Singapura. Namun hakim menyatakan permintaan itu tidak dapat diterima karena ada mekanisme pengajuan sendiri.

*Dolat Munthe

,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *