SAKSI PELAPOR SEBUT DALTON HANYA JANJI BAYAR TAPI TIDAK PERNAH BAYAR HUTANGNYA

Jakarta, Kompas Rakyat,

Perbuatan terdakwa Dalton Ichiro Tanonaka ketika menipu dan menggelapkan rekan bisnisnya semakin nyata dan terbukti manakala saksi pelapor memberi kesaksian dalam sidang yang dipimpin ketua majelis hakim Ibnu Widodo SH, MH , di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu sore, kemarin (8/8).

Perencanaan penipuan dan penggelapan senilai 500.000 dolar AS (setara dengan Rp 6.650.000.000) benar benar dirancang secara profesional oleh terdakwa Dalton.

Sebab berdasarkan keterangan saksi pelapor Harjani PR ketika bersaksi dalam sidang, awalnya Dalton datang ke kantor saksi tahun 2014 menanyakan bagaimana caranya mengembangkan investasi di Indonesia karena perusahaannya PT Melia Media International (PT MMI), belum. berkembang.

Selanjutnya terdakwa mendatangi saksi kedua kalinya. Dalam pertemuan itu, Dalton menyarankan agar saksi Harjani PR menginvestasikan uangnya sebanyak 1 juta dolar AS pada PT MMI dengan janji akan dibagi keuntungan 20% dan saksi diberi kewenangan saham pengendali pada perusahaan tersebut. Sebab bisnis terdakwa di jalur pertelevisian bernama Indonesia Channel menguntungkan 1 juta dolar AS/tahun.

Membuktikan ucapannya itu terdakwa kirim mwlalui email ibvoice perusahaannya ke kantor saksi PT Vaces Prabu Investments di OUB Plaza, Jl Thamrin, Jakarta Pusat.

Terdakwa Dalton mengatakan pula kepada saksi Harjani bahwa Judith Soeryadjaya telah ikut menginvestasikan uangnya pada perusahaan terdakwa The Indonesia Channel.

Dalton juga membuktikan bahwa cash flow perusahaannya sekitar Juni 2014, mengeluarkan operasional sebanyak Rp 374 juta/bulan. Seolah olah PT MMI sehat dan lancar.

Dan kedatangan Dalton ketiga kalinya ke kantor saksi, tanggal 6 Juni 2014, dia (terdakwa) minta agar Harjani investasi 500.000 dolar AS karena Dalton butuh uang. Melihat bukti cash flow yang untung 1 juta dolar AS dan voice tersebut saksi mentransfer uang sebanyak 500.000 dolar AS ke kas PT MMI dengan 2 kali transfer yakni pertama 400.000 dolar AS dan 100 000 dolar AS.

“Terdakwa Dalton kirim invoice ke kantor saya tanggal 9 September 2014 kekesalannya 10 -September 2014 saya transfer 500.000 dolar AS dan diberi tanda terima,” ,kata Harjani.

Setelah itu, tanggal 13 Oktober 2014 saksi minta pembukuan perusahaan terdakwa dan saksi mengirimkan auditor untuk mengaudit dokumen/pembukuan. Auditor mulai mengaudit perusahaan tersebut pada 15 Oktober 2014.

Hasil audit dikatakan perusahaan terdakwa tidak punya izin dibidang televisi, modal pendirian perusahaan hanya 350 dolar AS. Padahal terdakwa bilang modalnya 1,5 juta dolar AS.

Ouditor yang dibayar saksi mengaudit keuangan perusahaan terdakwa ternyata mengatakan perusahaan tersebut rugi dan punya hutang Rp 22 Miliar. Karenanya saksi tidak menambah investasi 500.000 dolar AS lagi.

Dari hasil Ouditor diketahui pula bahwa uang investasi saksi digunakan terdakwa untuk kepentingan pribadi dan bayar hutang perusahaannya.

Menjawab pertanyaan hakim, saksi Harjani mengatakan dia tidak tahu kalau perusahaan itu sedang rugi. Saksi percaya dan menginvestasikan uangnya karena invoice yang dikirim terdakwa.

“Selanjutnya saya minta kepada terdakwa supaya uang saya dikembalikan. Jawabnya kita kan teman, nanti saya bayar karena sedang melakukan perjalanan ke Papua dan Tokyo. Tapi sampai sekarang belum dibayar. Karena itu pada 17 Oktober 2014 saya suruh lawyer saya Hartono Tanuwidjaja yang urus dengan mensomasi terdakwa,” tandas Harjani.

Selanjutnya saksi mencari cari terdakwa dan mempertanyakan bagaimana mungkin perusahaannya bisa menguntungkan 1 ,juta dolar AS per tahun. Modal perusahannya saja kecil dan sedang rugi. Tapi jawabnya akan dibayar karena akan ada investor baru.

Tentang janji terdakwa membayar itu bukan hanya dengan lisan tapi juga lewat email. “Ada buktinya yang Mulia. Dia juga janji. bayar ke pengacara saya dan terahir pengacaranya juga mengatakan mau bayar. Tetapi entah kapan dia bayar saya engga tahu,” kata pengusaha sukses ini, sembari menambahkan, terahir mereka laporkan perbuatan terdakwa ke polisi pada pada 18 Juni 2015.

Setelah saudara tahu perusahaan terdakwa rugi Rp 22 Miliar. Dengan cara bagaimana dia membayar hutangnya? Tanya pengacara terdakwa DR Leonard Siburian SH, MH kepada saksi.

“Mana saya tahu,” jawab saksi spontan. Hingga pengunjung sidang ada yang berteriak, “Yang bayar utang kan terdakwa kok pertanyaan pengacara nadanya begitu.”

Karena ruangan sidang jadi riuh gelak tawa, hakim ketua langsung ketok palu. “Saudara penonton tidak bisa komentar. Dengarkan saja, begitu peraturannya,” teriak hakim hingga suasana jadi hening seketika.

Setelah mengetahui hasil oudit itu saksi Harjani mengatakan bahwa sekalipun diinvestigasi 5 juta dolar AS, PT MMI tidak akan mungkin untung.

Sedang saksi kedua, Ahmat Sanusi mengatakan bahwa dia adalah pegawai Harjani pada PT Vaces Prabu Investments.

Keterkaitan saksi Ahmat dalam perkara ini, dia adalah orang yang disuruh Harjani mentransfer uang ke PT MMI. “Uang 500.000 dolar itu saya transfer dua kali ke PT MMI. Pertama 400.000 dan kedua 100.000 dolar AS,” katanya.

Dalton Ichiro Tanonaka didakwa jaksa penuntut umum Sigit Suharianto SH, MH melakukan penipuan dan penggelapan dengan cara membujuk rayu saksi Harjani PR menginvestasikan uangnya pada perusahaan terdakwa PT MMI. Tapi setelah saksi investasi 500.000 dolar AS, ternyata uang tersebut dipakainya untuk kepentingan pribadi dan bayar hutang perusahaannya.

Sidang ditunda sepekan untuk memberi kesempatan kepada jaksa memanggil saksi lain.

*Dolat Munthe

,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *