MESKI DIHUKUM, WAHYUDIN AKBAR BERJANJI TERUS BERJUANG SUPAYA PT PERTAMINA JADI SAHABAT BUMI

Jakarta, Kompas Rakyat,
Terdakwa korupsi kasus penanaman seratus juta pohon, Yayasan Pertamina (Pertamina Foundation), Ir Wahyudin Akbar mengatakan kepada wartawan, dia tidak perduli berapapun tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), maupun vonis hakim terhadap dirinya. Sebab Wahyudin mengaku tetap berjuang untuk perusahaan Pertamina.

Hal ini dikatakan Wahyudin Akbar kepada Kompas Rakyat, seusai membacakan nota pembelaan dirinya pribadi dan pledoi penasihat hukumnya, Erman Umar di persidangan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (PN Tipikor) Jakarta Pusat, Rabu (25/10).

“Saya tidak takut berapa tahun pun divonis. Saya akan tetap berjuang untuk PT Pertamina,” kata Wahyudin dengan tersenyum.

Namun begitu, Wahyudin dalam nota pembelaannya berjudul “Mengadili Pejuang Pertamina Sobat Bumi” minta dibebaskan dari tuntutan tujuh tahun penjara yang sudah diajukan jaksa, pada sidang sepekan sebelumnya.

Menurut terdakwa Wahyudin, sebagai pegawai PT Pertamina mendambakan agar Pertamina menjadi perusahaan yang bersahabat dengan bumi. Perjuangan ini, menurutnya, telah dilakukannya sejak diberi tugas melakukan konversi minyak tanah ke LPG yang bisa mengurangi emisi karbon. Namun ternyata tidak signifikan dibanding dengan emisi karbon yang dikeluarkan PT Pertamina yaitu sekitar 231.68 juta ton CO2 pertahun atau senilai Rp 15 Triliun/tahun berdasarkan acuan harga karbon Word Bank. Untuk menyerap itu semua diperlukan adanya 100 juta pohon yang didedikasikan untuk itu.

Atas dasar tersebut saya telah berjuang bukan dengan cara proyek penanaman pohon seperti biasanya, tetapi melakukan dengan mengerahkan masyarakat untuk membangun usaha secara swadaya menabung pohon.

Saya sudah berjuang untuk mendapatkan orang orang yang menjalankannya yakni terdata ada 549 relawan, 529 verifikator, 152.096 petani, 3335 desa dan satu tim Twitgreen.

Mereka semua, menurut terdakwa kepada majelis hakim, sedang berjuang membangun usaha menabung pohon di lahan seluas 250.000 hektare dengan investasi penanaman sekitar Rp 612 juta pohon sejak tahun 2011. Berdasar metoda “Sistemic sampling with robson start.”

Permenhut 70/2008 terbukti sekurang kurangnya telah ada 105 juta pohon tumbuh yang didedikasikan oleh mayarakat untuk menyerap emisi karbon Pertamina mulai tahun 2015. “Hal ini akan saya terus perjuangkan meskipun terancam dituntut pidana. Karena adanya pihak pihak yang menganggap Program Gerakan Menabung Pohon (GMP) adalah proyek penanaman pohon PT Pertamina.

Masih menurut terdakwa Wahyudin dalam nota pembelaannya yang disusun dengan tulisan tangan dan ketikan komputer itu, sesungguhnya PT Pertamina diuntungkan secara pencitraan terkait penanaman pohon tersebut. Sebab PT Pertamina mengklaim pencapaian program menabung 100 juta pohon sebanyak 105.156.357. Berarti PT Pertamina diuntungkan atas adanya penghematan anggaran program menabung 100 juta pohon senilai Rp 1 Triliun dan berbagai penghargaan seperti rekor dunia MURI pada tahun 2013.

Wahyudin Akbar mengungkapkan pula bahwa tuntutan Jaksa yang menyatakan perbuatan terdakwa merugikan perekonomian negara tidak terbukti. Sebab PT Pertamina mendapat keuntungan dari program GMP sekitar Rp 1 Triliun terkait penghematan anggaran.

Diingatkan pula oleh terdakwa bahwa surat dakwaan jaksa sangat bertentangan dengan anggaran dasar Pertamina Foundation (PF). PT Pertamina adalah pendiri (bukan pemilik) sekaligus donatur PF. Untuk itu pada tahun 2011 PT Pertamina telah mengubah nama dan kegiatan YKPP menjadi PF.

Berbagai fakta dikemukakan terdakwa dalam pembelaannya sampai dia berkesimpulan bahwa program GMP 2012-2014 telah menguntungkan PT Pertamina. Dakwaan disebut sangat bertentangan dengan anggaran dasar PF. Program GMP adalah program PF yang menggunakan dana PF.

Sedang alat bukti disebut, MOU, Perjanjian dan peraturan peraturan internal PT Pertamina tidak bisa mengikat terdakwa terkait jabatannya sebagai Sekretaris PF dan sejumlah alasan lainnya.

“Dalam perkara ini saya.merasa seperti “Orang bisu didakwa memekakkan telinga orang dengan cara berteriak.” Oleh karena itu saya mohon kepada yang mula yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan :

Menyatakan saya tidak terbukti bersalah melakukan tindak pidana sesuai dengan yang dituntut penuntut umum. Membebaskan saya dari penjara baik dari dakwaan primata maupun subsidair berikut denda dan uang pengganti.

Terdakwa juga memohon agar pengadilan mengembalikan seluruh barangnya yang disita, berupa 3 unit apartemen, 2 mobil pribadi dan uang Rp 500.000.000, serta nama baiknya direhabilitasi.

“Putusan tersebut saya perlukan supaya saya bisa melanjutkan perjuangan untuk menjadikan PT Pertamina Sobat Bumi yang telah dihentikan oleh Ketua dan Bendahara PF pada tanggal 4 Mei 2015 lalu.”

“Meskipun saya tidak disumpah dalam persidangan ini, saya selaku umat beragama meyakini apa yang saya katakan, ucapkan, tulis akan dipertanggungjawabkan di pengadilannya Allah SWT. Demikian semoga Allah SWT meridhoi kita semua,” kata Wahyudin diakhir pembelaannya.

Usai pembacaan ini, sidang diteruskan mendengar nota pembelaan pengacara Erman Umar. Dan akhirnya, hakim ketua DR Semulus Djadja Subagja SH, MH menegaskan bahwa pembacaan putusan majelis hakim dilakukan besok (hari ini).

Meski tidak lazim pernyataan hakim ketua tersebut tapi jaksa, pengacara dan terdakwa tidak mampu memprotes.

*Dolat Munthe

, ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *