KOLEKSI BUKU-BUKU, DONASI DARI PARA PENDIRI

Semarang, Kompas Rakyat.

Budaya membaca mulai terkikis dengan maraknya penggunaan teknologi canggih berbasis jaringan internet. Akibanya, sebagian besar masyarakat kini lebih menyukai pemenuhan rasa ingin tahunya dari hal yang praktis. Hal tersebut memantik keprihatinan beberapa pegiat literasi di Kabupaten Semarang. Seperti apa?

NATHAZA AYUDYA

PARA pegiat literasi berusaha keras menumbuhkan kembali budaya membaca di kalangan masyarakat. Mereka terdiri atas enam orang, yaitu Anggi Arda, Hendra Setiawan, Rijal Hanafi, Sobrian, Ghaluh, dan Shendy. Mereka dari beragam latar belakang, mulai musisi, mahasiswa dan pekerja. Mereka berenam, Agustus lalu, mendirikan perpustakaan yang didedikasikan untuk masyarakat agar lebih menyukai membaca dalam menambah pengetahuan dan wawasan barunya.

Perpustakaan tersebut dinamai Pustaka Jalanan. Gerainya yang terbilang sederhana digelar secara terbuka di Alun-Alun Bung Karno Ungaran, Kabupaten Semarang. Semula hanya memiliki 30 buku yang dikumpulkan dari buku para pendirinya. “Awalnya kami mengumpulkan buku dari donasi kami berenam. Supaya masyarakat terlibat, kami mengadakan acara Keroncong Nggo Tuku Buku di Alun-Alun Bung Karno bersama Dinas Pariwisata,” kata Anggi salah satu perintis saat ditemui di Gerai Pustaka Jalanan.

Saat ini, Pustaka Jalanan sudah memiliki koleksi 200 buku lebih. Buku-buku tersebut bersumber dari donasi pegiat literasi lainnya dan berbagai pihak peduli meningkatkan daya baca. Bersyukur, Pustaka Jalanan mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat.

Pihaknya berharap, Pustaka Jalanan bisa menjadi salah satu media pembelajaran agar masyarakat lebih cerdas dalam menyerap ilmu, berpendapat, ataupun mengaplikasikan berbagai pengetahuan dari membaca. Buku-bukunya pun beragam, mulai dari buku dongeng, komik anak-anak, novel, pluralisme, politik, sosial, agama, sampai buku filsafat.

“Kami menyadari, tidak semua orang bisa ke perpustakaan daerah. Mungkin karena jauh atau suasananya yang monoton. Tapi dengan adanya Pustaka Jalanan di ruang publik seperti di Alun-Alun ini, masyarakat yang datang bisa bermain sekaligus membaca buku,” kata Dwi Hantyanta salah satu pengunjung Pustaka Jalanan, Minggu (8/10) kemarin.

Terpenting lagi, urainya, Pustaka Jalanan bisa memfasilitasi kebutuhan membaca anak-anak kurang mampu atau anak-anak yang tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Apalagi, rata-rata perhari jumlah pengunjung bisa sampai 15 atau 20 orang, mulai dari anak kecil, anak muda, dan juga orang tua. “Perpustakaan umum ini sebagai wadah anak-anak kurang mampu yang belum mengenyam pendidikan. Mereka bisa mencari ilmu dari membaca buku-buku kami. Ternyata memang betul, mereka memiliki minat baca yang tinggi,” tutur Shendy.

Adapun kegiatan lain di Pustaka Jalanan, ada mewarnai, mendongeng, diskusi terbuka, bedah buku dan live music. Kegiatan tersebut, semakin menambah minat baca dan turut menyebarkan budaya literasi di masyarakat di Pustaka Jalanan yang dibuka setiap hari Sabtu malam, Minggu dan hari libur.

, ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *