PUTUSAN MAJELIS HAKIM DIAH SB JADI SOROTAN MEDIA

Jakarta, Kompas Rakyat,

Putusan majelis hakim pimpinan Diah Siti Basariah SH MHum, belakangan ini sangat rendah dan sering menjadi sorotan. Padahal selama ini hakim Diah dikenal hakim yang idealis di kalangan pengacara, panitera pengganti dan teman sejawatnya para hakim.

Tapi belakangan ini, setidaknya ada dua putusan ringan hakim Diah yakni dalam putusan perkara korupsi TVRI atas nama terdakwa Ludie Eristasan dan Hendrik Handoko. Begitu pun putusan perkara pidana menggunakan surat palsu atas nama terdakwa Herman Djaja Anak Surya Djaja. Pembacaan putusan kedua perkara ini dibacakan berlainan hari tapi vonis hakim tersebut sangat rendah. Vonis majelis hakim Tipikor Jakarta pimpinan Diah Siti Basariah bahkan sempat dipertanyakan pengunjung sidang itu sendiri karens majelis hanya menghukum dua terdakwa yang melakukan tindak pidana korupsi dengan hukuman hanya selama 2,5 tahun dengan rincian Ludie Eristasan 18 bulan penjara dan Hendrik Handoko 12 bulan penjara potong tahanan.

“Ramai-ramai saja kita korupsi. Kalau ketahuan dihukum ringan, sementara uang korupsinya kita sembunyikan yang rapi agar jangan ikut disita. Bisa jadi lebih ringan hukuman koruptor yang menggerogoti uang rakyat daripada penipu atau pelaku penggelapan,” ujar seorang pengunjung sidang yang tidak mau ditulis jati dirinya. Selain hukuman itu, majelis hakim juga memang mewajibkan para terdakwa membayar denda sebesar Rp 50 juta subsider tiga bulan kurungan. “Kalau dijalani berarti kedua terdakwa itu hitung-hitung memperoleh gaji lebih dari Rp 10 juta setiap bulannya,” tuturnya. Padahal, majelis dalam pertimbangan hukumnya mengatakan, para terdakwa secara sah dan meyakinkan terbukti melakukan korupsi seperti pada dakwaan subsider jaksa. Bahkan terdapat pula hal yang memberatkan bagi terdakwa yang juga dipertimbangkan dalam putusan. Antara lain yang memberatkan, para terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan korupsi. Putusan majelis hakim ini lebih ringan dari tuntutan JPU yang sebelumnya menuntut 3,5 tahun penjara. Karena itu, terdakwa langsung menyatakan menerima vonis majelis hakim tersebut.

Di pihak lain Jaksa Penuntut Umum tidak memberi jawaban tegas, mengatakan pikir- pikir atas diskon putusan hakim yang berlebihan. Kedua terdakwa dipersalahkan terkait kasus Pengadaan Program Siap Siar LPP TVRI pada Paket Kartun Animasi Anak, dan Paket FTV Anak-anak yang pada Tahun Anggaran 2012. Hendrik Handoko adalah dari pihak swasta atau Rekanan/ Kuasa Direktur PT A ManInternasional . Begitu juga Ludy Eristasan adalah pihak swasta. Kedua terdakwa terlibat dalam kasus korupsi TVRI yang sebelumnya melibatkan komedian Mandra dan rekannya. Mereka korupsi pada Lembaga Penyiaran Publik (LPP) yang diduga merugikan keuangan negara senilai Rp 2 miliar. Mandra telah terlebih dulu disidangkan dan dihukum 1 tahun penjara, karena dia mengaku diperdaya rekan-rekannya.

*Dolat Munthe

, ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *