PENGACARA HARTONO TW: PERBUATAN KARYAWAN PT RS TERHADAP SUTRISNO PELANGGARAN BERAT

Jakarta, Kompas Rakyat

Kalangan pengusaha diimbau untuk berhati hati dalam bisnis jual beli saham di Bursa Efek Jakarta (BEJ) karena dalam bisnis ini ada oknum pialang curang. Jangan sampai terjadi seperti yang dialami pengusaha peternak ayam.asal Kediri, Jawa Timur, Sutrisno yang merugi miliaran rupiah, tambah lagi hutang puluhan miliar rupiah akibat kecurangan pegawai PT Reliance Securities, Tbk (PT RS).

Menurut kuasa hukum Sutrisno, pengacara Hartono Tanuwidjaja SH, MSi, MH ada beberapa perkara yang ditanganinya. Aksi aksi yang terkait dengan kasus Sutrisno Vs PT RS seperti tertuang dibawah ini. Dalam kasus Pidana, PT RS (Pelapor) telah membuat dan menandatangani dua laporan pidana terhadap Sutrisno (Terlapor). Pwetama Laporan Polisi Nomor : LP/744/VIII/2014/Bareskrim Tanggal 20 Agustus 2014 atas nama Pelapor Anton Sudarno, SE, SH, MH atas kasus dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan dan Pasal 3 dan Pasal 5 Undang undang No. 8 Tahun Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang diduga dilakukan Sutrisno.

Laporan Polisi tersebut menurut Hartono, telah di SP-3. Atau Laporan Polisi No.: LP/744/VIII/2014/Bareskrim Tanggal 20 Agustus 2014 telah dihentikan penyidikannya oleh penyidik Bareskrim Mabes Polri dengan menerbitkan Surat Ketetapan Nomor : S.Tap/93b/VI/2016/Dittipideksus Tanggal 22 Juni 2016 karena bukan tindak pidana. Laporan kedua Laporan Polisi : LP/598/K/V/2016/PMJ/RESJU Tanggal 10 Mei 2016 atas nama Pelapor Andar RH Panggabean atas kasus tindak pidana Penipuan dan Penggelapan yang diduga dilakukan Sutrisno. Tapi hingga saat ini belum.diperoleh update lebih lanjut atas laporan tersebut.

Selanjutnya, Sutrisno (Pelapor) telah membuat dan menandatangani Laporan Pidana di Polda Timur terhadap PT RS (Terlapor) yakni: Laporan Polisi No. LPB/1233/X/2014/UM/JTM atas nama Pelapor Sutrisno atas kasus tindak pidana Penipuan dan Penggelapan yang diduga dilakukan oleh Kepala Cabang PT RS Cabang Surakarta Diah Irma Pramonowati. Sutrisno (Pengadu) telah membuat dan menandatangani pengaduan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap PT RS (Teradu) dengan surat Nomor: 0010/AB-S/XII/2014 Tanggal 20 Januari 2014 atas nama pelapor H Imam Makhali SH, MH. Pengaduan tersebut telah direspon oleh pihak OJK dengan surat Nomor: S.644/PM.14/2013 patas dugaan terkait pela.gugatan peraturan perundang undangan di bidang Pasar Modal. Dalam kasus perdarta Sutrisno (Penggugat) telah mengajukan gugatan Perbuatan Melawan hukum (PMH) melawan PT MS (Tergugat I) dan Sahala Parulian (Tergugat II) yang telah didaftarkan di Kepanitiaan Pengadilan Negeri Jakarta Utara dengan nomor registrasi: 253/PDT.G/2017/PN.JKT.UT Tanggal 17 Mei 2917. Dan perkara ini tengah diadili. Menjawab surat Sutrisno yang dikirim lewat kantor Hartono Tanuwidjaja & Partners, tentang info ‘izin Wakil Manager Investasi (WMI) dan Wakil Perantara Perdagangan Efek (WPPE) atas nama Sahala Parulian, disebutkan bahwa, berdasarkan data base yang dimiliki OJK disimpulkan bahwa Sahala Parulian memiliki izin WPPE Nomor : KEP-321/BL/WPPE/2012 Tanggal 26 Juni 2012. Namun sejak tanggal 19 Nopember 2016 izin tersebut sudah tidak aktif karena yang bersangkutan tidak melakukann perpanjangan izin WPPE dimaksud.

Pada surat yang ditandatangani Direktur Pengawasan Lembaga Efek OJK, Agus Saparina, disebut pula Sahala Parulian tidak memilki izin WMI. Menurut pengacara Hartono, cikal bakal perkara perkara ini berawal.dari ketika Sutrisno dipermainkan setelah membeli saham PT RS senilai Rp 5,4 Miliar melalaui Kepala Cabang PT MS di Surakarta, Diah Irma Pramonowati. Pembeliannya saham ini ternyata tidak menguntungkan hingga Sutrisno minta dilikuidasi. Diah Irma membujuk Sutrisno agar membatalkan likuidasi tersebut dengan iming iming atau janji bahwa Sahala Parulian dari kantor pusat PT MS, bisa mengendalikannya hingga saham Sutrisno bisa menguntungkan. Setelah Sahala Parulian diperkenalkan Diah Irma kepada Sutrisno, Sahala Parulian minta dibuat surat kerja sama dan surat kuasa mengendalikan saham Sutrisno di Bursa Efek. Setelah diserahkan surat kerja sama.dan surat kuasa (SLS-004) itu kepada Sahala Parulian, pada tanggal 14 Mei 2012, selanjutnya tanpa sepengetahuan dan seizin Sutrisno Parulian melakukan transaksi jual beli saham.

Transaksi jual beli saham yang pertama tanggal 14 Mei 2012 sampai 16 Mei 2012 senilai Rp 5 Miliar lebih merugi hingga Sutrisno punya hutang Rp 2,9 Miliar. Transaksi jual beli kedua tanggal 18 Mei 2012 sampai 17 Juli 2012 dengan transaksi sampai Rp 45 Miliar, mengakibatkan timbulnya hutang Sutrisno sebesar Rp 5,9 Miliar. Transaksi ketiga tanggal 18 Juli 2012 sampai 03 Januari 2013 yang transaksinya mencapai Rp 136 Miliar. Pertanyaannya dari mana izin WMI Sahala Parulian melakukan transaksi itu. Dan transaksi ketiga dari mana surat kuasa dan perintah order beli jual saham itu. “Ada engga perintah Sutrisno, engga ada tapi diteruskan sales Treder,” tandas Hartono. Harusnya perintah Sutrisno tapi ini ga ada. Berarti Parulian yang perintah. Karena itu pertanyaannya kenapa PT RS membuat surat kuasa kepada Sahala Parulian yang tidak punya izin. Padahal Sahala itu ngakunya orang pusat PT RS, ahli untuk merekapri (menguntungkan) orang tapi ini kok merugikan orang. Terungkap pula bahwa transaksi ini sangat besar. “Total transaksi saham Sutrisno yang dilakukan Sahala Parulian senilai Rp 188 Miliar,” kata Hartono. Sedang hutang Sutrisno yang timbul dari total transaksi ini Rp 13 Miliar. Tapi dari hitungan PT RS disebut hutang Sutrisno Rp 32 Miliar.

Ketika dipertanyakan dari mana perhitungan hutang Sutrisno mencapai Rp 32 Miliar ke PT MS melalui dua kali surat konfirmasi tidak dijawab. Begitupun keberadaan Sahala Parulian sekarang ini menghilang. Tapi tidak tertutup kemungkinan menurut Hartono, berdasarkan Putusan perkara perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, pihaknya akan buat Laporan Polisi baru karena ini jelas bahwa Parulian ini karyawan pusat PT RS yang tidak punya izin tetapi disodorkan untuk mengelola rekening. Itu adalah pelanggaran berat.

*Dolat Munthe

, ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *